Kisah Putri Tangguk ( cerita dari Jambi )

,



Putri Tangguk adalah ibu darai tujuh anak. Ia tinggal di Negeri Bunga, Kecamatan Danau Kerinci Jambi, bersama suami dan anak - anaknya. Mereka mempunyai sebidang tanah yang walaupun, hanya sebesar tangguk atau nampan beras. namun ajaibnya , setiap habis di panen , akan tumbuh pagi - pagi baru yang menguning. Oleh karena itu, Putri Tangguk saangat sibuk memanen padi - padinya. Anak - anaknya tak terurus dan ia juga menjadi jauh dari tetangga.

Suatu hari, Putri Tangguk merasa lelah. ia ingin mengurus anak dan berkunjung ke tetangga lalu, ia dan keluarganya berencana memanen padi seharian dan menyimpan padi - padi itu hingga cukup untuk berbulan - bulan.

Pagi harinya, Putri Tungguk bersama anak - anak dan suaminya berangkat ke sawah, Dalam perjalanan, Putri Tangguk terpeleset karena jalanan licin sehabis hujan.

" Jalanan buruk, umpatnya, " Baiklah, nanti setelah menuai padi aku kan menyerakkan padi - padi itu di jalan sebagai pengganti pasir biar tidak licin.

Setelah menuai padi, ia menebarkan sebagian besar padi yang mereka tuai di jalan. Jalanan tidak licin lagi, Sisa padi itu mereka bawa pulang.

Setelah hari itu, Putri Tangguk tidak lagi ke sawah. Ia menghabiskan waktunya untuk menenun kain. Kesibukanya itu teryata juga menyita waktunya. Ia pun tetap tidak bisa mengurus anak- anak dan bersilaturahmi dengan tetangganya.

Suatu malam, Putri Tangguk menenun sampai malam hingga anak - anaknya tertidur karena letih, ia pun tertidur di dekat anak - anaknya. Ia lupa memasak nasi.

tengah malam, si bungsu bangun dan mengeluh kelaparan. Putri Tanggung membujuknya untuk kembali tidur. kemudian anak yang lain pun bangun dan mengeluh lapar. tetapi mereka masih bisa di bujuk untuk kembali tidur. Akhirnya si sulung terbangun dan mengeluh lapar. Ia tak mau ketika ibunya menyuruh tidur .

Aku lapar sekali Bu, Katanya. Kamu kan sudah besar, masaklah sendiri, Ambilah beras dari dalam kaleng, Kalau tidak ada ambil padi di lumbung dan tumbuk sendiri, Kata Putri Tangguk.

Si sulung menuruti kata ibunya, Namun ia tidak menemukan apa pun. Ia melapor pada ibunya.
Putri Tangguk kaget dan meminta suaminya melihat ke lumbung. Semua anaknya terbangun dan merengek kelaparan.

Suaminya pergi ke lumbung Benar saja tidak ada apa - apa di lumbung itu, Lumbung - lumbung lainya jug kosong." Putri Tangguk yakin ada yang mencuri beras-berasnya. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan.
Esoknya, ia dan keluarganya pergi ke sawah lagi untuk memanen padi. Namun , tak satu batang padi pun tumbuh. Yang ada hanya rumput liar yang lebat. Mereka pulang kerumah dengan kecewa dan sedih.
Karena kelelahan, Putri Tangguk tertidur, Ia bermimpi di datangi kakek berjenggot berpakaian putih.

Wahai, Putri Tangguk kamu mempunyai sawah yang hanya selebar tangguk. Tapi hasilnya bisa mengisi lumbung - lumbungmu yang besar-besar itu, Sayangnya , kamu sangat sombong dan takabur dengan menebarkan padi - padi di jalanan. " Ketauilah, bahwa di antara padi - padi yang kamu tebar itu, ada sebatang padi hitam. Itulah Raja kami, kami tidak bisa menerima perbuatanmu, kami tak kan lagi tumbuh di sawahmu, Mulai sekarang, Kau dulu bekerja , baru bisa makan.

Putri Tangguk terbangun dari tidurnya dan orang tua itu pun langsung menghilang. Ia merenung dan menyesali sifatnya yang sombong dan takabur.

KEMBALI KE CERITA ASLI DARI JAMBI