Kisah Putri Karang Melenu ( Cerita dari Kalimantan Timur )

,



PUTRI KARANG MELENU
Di Desa Melanti, dekat Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, hiduplah seorang petinggi dan itrinya di sebuah gubuk sederhana, Pekerjaan mereka setiap hari menebang kayu. Meskipun tidak di karunia anak, mereka hidup bahagia, saling menyangi.

Suatu hari, Ketika sedang menebang pohon, petinggi tersebut menemukan seekor ular kecil yang hampir terkena kapaknya, Uar itu menetapkanya dengan wajah takut.

Petinggi itu membawa ular kecil itu pulang ke rumah dan merawatnya seperti merawat anak mereka sendiri.

Setiap hari, ular kecil itu di beri makan yang banyak. Lama kelamaan, ualar kecil itu tumbuh menjadi seekor naga yang anggun dan baik hati, Setiap hari ia membantu pekerjaan rumah orangtua angkatnya.

Suatu hari, sang pentinngi bermimpi bertemu gadis muda yang sangat cantik. Ayah dan Bunda aku adalah jelmaan, naga yang kalian rawat sejak berupa ular kecil. Aku minta izin untuk pergi dari sini. Tetapi aku mohon agar aku bisa di buatkan tangga menuju sungai. Jika aku sudah turun, mohon ikutlah aku ke mana aku merayap. Lalu bakarlah wijen hitam dan taburkan beras kuning di tubuhku, " katanya, lalu gadis itu menghilang.

Sang petinngi segera menjalankan permintaan gadis dalam mimpi itu. Di buatnya tangga dari bambu yang di ikat dengan akar lembiding.




naga itu merayap sampai ke sungai dan berenang tujuh kali ke hulu dan tujuh kali ke hilir. Petinngi dan istrinya mengikuti dengan perahu.

Ketika berenang ke tepian batu, naga itu menyelam, Sesaat setelah sang naga menyelam, tiba - tiba datanglah badai dan angin kencang, langit mejadi gelap seperti malam, namun tak lama cuaca cerah kembali.

Petinggi dan istrinya sangat terkejut ketika melihat Sungai Mahakam penuh dengan buih aneka warna. " Di atas buih itu ada sebuah gentong kayu. Teryata gentong lucu dan bersinar. Mereka sangat bahagia dan membawa bayi itu pulang dan merawatnya bayi itu di beri nama putri Karang Melenu.

Kelak Putri Karang Melenu menjadi permulaan Raja Kutai Kertanegara ing Marta Di Pura I, Ia melahirkan seorang putra bernama aji Batara Agung Paduka Nira.

Untuk menghormati Putri Karang Melenu. Masyarakat masih mengadakan upacara mengulur naga sebagai bagian dari Festival Erau di Kalimantan Timur

KEMBALI KE CERITA DARI KALIMANTAN TIMUR